Iklan ukuran 728x90

Macam-macam Tarian Tradisional dari 34 Provinsi di Indonesia (Part 2)


12.     Provinsi Jawa Barat
Tari Jaipong



Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipongan di karawang pesat pertumbuhannya di mulai tahun 1976, di tandai dengan munculnya rekaman jaipongan SUANDA GROUP dengan instrument sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih
tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni

13.     Provinsi Jawa Tengah
Tari Bedhaya Ketawang


Tari Bedhaya Ketawang (Bahasa JawaTari Bedhoyo Ketawang) adalah sebuah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika penobatan serta Tingalandalem Jumenengan Sunan Surakarta (upacara peringatan kenaikan tahta raja). Nama Bedhaya Ketawang sendiri berasal dari kata bedhaya yang berarti penari wanita di istana.[1][2] Sedangkan ketawang berarti langit, identik dengan sesuatu yang tinggi, keluhuran, dan kemuliaan.[1] Tari Bedhaya Ketawang menjadi tarian sakral yang suci karena menyangkut Ketuhanan, dimana segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Bedhaya Ketawang merupakan suatu tarian yang berfungsi bukan hanya sebagai hiburan, karena tarian ini hanya ditarikan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang sangat resmi. Tari Bedhaya Ketawang menggambarkan hubungan asmara Kangjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram. Semuanya diwujudkan dalam gerak-gerik tangan serta seluruh bagian tubuh, cara memegang sondher dan lain sebagainya. Semua kata-kata yang tercantum dalam tembang (lagu) yang mengiringi tarian, menunjukkan gambaran curahan asmara Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja


14.     Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Tari Serimpi


Tari Serimpi adalah salah satu tarian klasik dari Yogyakarta yang ditarikan beberapa penari wanita cantik dan anggun. Tarian ini menggambarkan kesopanan dan kelemah lembutan, yang di tunjukan dari gerakan yang pelan dan lembut oleh para penarinya. Tari Serimpi ini awalnya juga merupakan tarian yang bersifat sakral dan hanya ditampilkan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Dalam pertunjukannya, penari menari dengan lemah gemulai dengan gerakan yang sangat pelan  mengikuti iringan Gamelan. Selain itu setiap gerakan dalam tarian ini tentunya mengandung arti khusus. Gerakan dalam Tari Serimpi ini didominasi oleh gerakan tangan, kaki, dan kepala. Dalam pertunjukannya penari menari dengan gerakan yang lembut dengan memainkan selendang yang di ikat di pinggangnya

15.     Provinsi Jawa Timur
Tari Remo


Menurut sejarahnya, tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.
Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan
Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki.

16.     Provinsi Banten
Rampak Bedug



Kesenian ini awalnya dibuat hanya untuk kepentingan religi saja, yaitu sebagai sarana untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Namun karena kreativitas masyarakat, membuat pertunjukan Rampak Bedug ini menjadi lebih menarik dan dianggap sebagai karya seni yang patut untuk dihargai. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya kelompok-kelompok Rampak Bedug yang melestarikan kesenian ini. Selain itu, kesenian Rampak Bedug ini juga tidak hanya di tampilkan untuk menyemarakan bulan suci Ramadhan saja, namun juga berbagai acara lain seperti festival budaya, penyambutan tamu penting, dan acara lainnya
  
17.     Provinsi Bali
Tari Pendet



Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis
Tarian ini diajarkan sekadar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangkukendicawan, dan perlengkapan sesajen lainnya

18.     Nusa Tenggara Barat
Tari Sere


Tari Sere pada jaman dahulu merupakan tari klasik Istana Bima. Tari Sere dari Bima Nusa Tenggara Barat ini diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Tari Sere dari NTB dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh - musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri). Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini diberinama mpa'a sere , yang berarti melompat sambil berlari (sere).
Tari Sere diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Tari Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA di Nusa Tenggara Barat.

19.     Nusa Tenggara Timur
Tari Gareng Lameng


Tarian gareng lameng ini sendiri biasanya dipertunjukkan pada upacara khitanan. Dimana pada upacara ini tarian ini sering disertakan didalamnya untuk menambah acara tersebut sehingg menjadi lebih meriah dan berlangsung sangat baik sehingga dapat dinikmati oleh para kalangan masyarakat umum yang ada di NTT tersebut sendiri. Tari ini sendiri berupa ucapan selamat serta memohon berkat dari Tuhan agar yang dikhitan agar selalu sehat lahir batin dan juga dapat sukses dalam hidupnya. Tentu saja orang tua ingin melihat para anaknya mendapatkan kesehatan lahir juga batinnya serta kesuksesan pada hidupnya sendiri.

20.     Provinsi Kalimantan Barat
Tari Monong


Tari Monong ialah salah satu Tarian di Kalimantan Barat yang bertujuan untuk pengobatan penyakit bagi salah satu warga dari Suku Dayak agar memperoleh kesembuhan. Dahulunya, tarian ini dilakukan khusus oleh dukun atau sesepuh yang dituakan di Suku Dayak dengan tari sambil membaca mantra-mantra tertentu. Dalam pelaksanaannya, keluarga dari penderita yang sedang sakit harus hadir dalam prosesi pembacaan mantra tolak bala penyakit tersebut dan mengikutinya. Dengan diiringi beberpa alat musik tradisional, jampi-jampi diiringi tarian sengaja dikukuhkan kepada Sang Pencipta untuk mendapatkan kesembuhan penyakit dari si penderita.
Tari Monong dilengkapi dengan busana Dayak yang unik dan menarik. Prosesi ritual ini membuat setiap alunan musik, gerakan penari hingga suasananya menjadi beraroma mistis. Keunikan lain dari tari Monong adalah adanya gerakan hentakan kaki  serta gerakan tangan lengkap dengan mantra-mantra menggunakan bahasa suku dayak yang hanya bisa dipahami oleh sesepuh tersebut. Pada umumnya Tari Monong masih sangat dijunjung tinggi dalam beberapa acara adat Bemanang dan Balian. Suasana senyum ramah tamah dalam tarian ini membuat setiap penontonnya larut dalam keadaan seperti keluarga

21.  Provinsi Kalimantan Tengah
Tari Tambun dan Bungai


Tari tambun dan Bungai merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tarian ini mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas hasil panen dari rakyat.
Tambun dan Bungai adalah seorang saudara dari ayah mereka yang merupakan adik-kakak. Keduanya memiliki karakter serta sifat yang sama. Mereka juga memiliki watak yang cerdas, peramah, lemah lembut, suka menolong sesama, sedikit menerima banyak memberi, bijaksana, cepat kaki ringan tangan,  dan juga pantang menyerah untuk membela kebenaran.
Salah satu peristiwa penting yang menjadikan Tambun dan Bungai sebagai pejuang dari Kalimantan Tengah adalah mereka selalu menang didalam pertempuran melawan musuh yang akan merampas tanah dan juga panen masyarakat setempat. Atas perjuangan Tambun dan Bungai, banyak orang yang menciptakan kebudayaan untuk mengenangnya, salah satunya ialah Tarian Tambun dan Bungai.

22.  Provinsi Kalimantan Selatan
Tari Baksa Kembang


Tarian ini dipertunjukkan dengan tujuan untuk menghibur keluarga Keraton dan untuk menyambut kedatangan para tamu agung dari negeri tetangga. pada saat ini fungsi dari tarian ini tak jauh berbeda yaitu untuk menyambut para tamu nasional atau kenegaraan yang berkunjung.dan adpa ppula yang mempertunjukkan tarian ini pada saat pesta keluarga, seperti Pernikahan, Khitanan dan lain sebagainya.
Adapun aksesoris yang sering digunakan dalam tarian ini atara lain kalau untuk di akai di tangan mereka menyebutnya dengan kembang Bogam yaitu merupakan rangkaian dari berbagai jenis bunga diantaranya bunga mawar, bunga kantil, bunga melati, dan bunga kenanga. Dimana Kembang Boga ini nantinya akan di hadiahkan kepada para tamu kehormatan yang saat itu hadir..
Tarian baksa Kembang juga memakai Mahkota yang disebut dengan Mahkota Gajah Gemuling yang di tatah oleh Kembang Goyang dengan seuntai Kembang bogam kecil berukuran kecil di atasnya dan dengan seuntai anyaman yang terbuat dari daun kelapa muda yang disebut Halilipan


Macam-macam Tarian Tradisional dari 34 Provinsi di Indonesia (Part 2) Macam-macam Tarian Tradisional dari 34 Provinsi di Indonesia (Part 2) Reviewed by dara chantik on August 30, 2018 Rating: 5

No comments:

Iklan ukuran 728x90
Powered by Blogger.